Nilai Penting

Arsip Konservasi Borobudur, atau Borobudur Conservation Archives, mempunyai signifikansi bagi dunia karena arsip ini mendokumentasikan salah satu proyek konservasi terbesar pada abad ke-20 yang didanai oleh dunia internasional pada periode penting ketika perhatian dunia berfokus kepada pelestarian cagar budaya sebagai sebuah langkah lintas negara dan kerja sama internasional.

Negara-negara yang terlibat dalam mendukung pelestarian Candi Borobudur, dalam bentuk dana dan asistensi teknis, adalah Australia, Belanda, Belgia, Burma (Myanmar), Siprus, Ghana, India, Inggris, Irak, Iran, Italia, Jepang, Jerman Barat, Kuwait, Luksemburg, Malaysia, Mauritius, Nigeria, Pakistan, Perancis, Filipina, Qatar, Selandia Baru, Singapura, Spanyol, Swiss, Tanzania, dan Thailand. Lembaga swasta yang terlibat adalah American Committee for Borobudur Inc., Japan Association of Borobudur in Cooperation with the Asian Cultural Centre for UNESCO, Commemorative Association Of The Japan World Exposition, The Netherlands National Committee for Borobudur, General Lottery in The Netherlands, Borobudur Restoration Supporting Group in Nagoya, JDR 3rd Fund New York, dan International Business Machines Corporation.

Lebih jauh, Arsip Konservasi Borobudur mempunyai signifikansi bagi dunia karena merupakan salah satu arsip pelestarian paling komplet dari sebuah situs Warisan Dunia. Langkah-langkah konservasi Candi Borobudur memerlukan waktu sampai dengan sepuluh tahun dan didokumentasikan secara sistematis dan ekstensif. Sebagai bagian dalam proses pelestarian, setiap batu, arca, panel relief dan lain sebagainya, dipindah dari candi, dibawa ke laboratorium konservasi di dekat candi, dan kemudian dikonservasi. Proses ini didokumentasi pada setiap tahapnya. Sebagai contoh, jika dibandingkan dengan arsip dari proyek kerja sama internasional lainnya seperti Angkor, Kamboja, yang arsipnya terpisah-pisah di berbagai negara, Arsip Konservasi Borobudur lebih terorganisasi karena mayoritas dokumen penting dikelola oleh Balai Konservasi Borobudur, yang tugas utamanya adalah melaksanakan konservasi Candi Borobudur.

KRITERIA KOMPARATIF


1.   Waktu

Periode tahun 1973–1983 merupakan periode penting bagi ilmu konservasi cagar budaya karena pemugaran Borobudur mengenalkan teori/konsep dan teknis konservasi terbaru, serta teknologi terbaru pada saat itu, dengan mengimplementasikan pendekatan multi disiplin yang melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti arkeologi, arsitektur, kimia, biologi, teknik sipil, geodesi dan geologi. Pemugaran Candi Borobudur merupakan proyek pertama yang menggunakan teknik modern untuk pelestarian monumen, misalnya penggunaan fotografi udara dan survei fotogrammetri sebelum pembongkaran batu dan penggunaan komputer dalam perencanaan operasi. Hal tersebut merupakan langkah baru yang dikenalkan dalam pelestarian cagar budaya, dimana pencapaian ini terdokumentasi dengan baik di dalam arsip.

2.   Tempat

Candi Borobudur merupakan salah satu situs cagar budaya yang dimasukkan dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO nomor 592 tahun 1991. Kompleks Candi Borobudur sebagai warisan dunia memenuhi kriteria (i), (ii), dan (iv) dari kriteria nilai universal luar biasa. Nilai Candi Borobudur sebagai sebuah representasi mahakarya arsitektural dan seni monumental Buddha dari abad ke-8 AD menggambarkan nilai penting candi ini pada dunia.

Dokumentasi pelestarian yang terdapat didalam arsip menyediakan informasi penting tentang konstruksi dan arsitektur Candi Borobudur. Data di arsip ini didapatkan karena candi dibongkar dan direkonstruksi kembali pada proses pemugaran antara tahun 1973–1983. Seluruh proses didokumentasikan dengan detail dan dicatat didalam arsip. Data yang terkandung didalam arsip menunjukkan bagaimana Candi Borobudur dibangun, seperti misalnya sistem kuncian yang digunakan dalam konstruksi kuno dan struktur Candi Borobudur yang dibangun dengan memanfaatkan sebuah bukit. Secara keseluruhan, data yang didapatkan merupakan data yang sangat fundamental dalam memahami situs Warisan Dunia Borobudur dan menambah pemahaman publik tentang situs tersebut.

3.   Masyarakat

Pelestarian Candi Borobudur melibatkan sejumlah ahli penting dalam bidang konservasi cagar budaya dari komunitas internasional dan Indonesia, serta komunitas lokal di sekitar Borobudur. Arsip ini menyediakan informasi penting mengenai orang-orang tersebut.

Consultative Committee for the Safeguarding of Borobudur (CC-Borobudur) terdiri dari Prof. Ir. R. Roosseno (Indonesia) sebagai ketua, Dr. Daigoro Chihara (Jepang), Dr. Johannes E.N. Jensen (Amerika Serikat), yang pensiun pada tahun 1975 dan digantikan oleh Dr. W. Brown Morton III, Dr.  Raymond Lemaire (Belgia), dan Dr. Karl G. Siegler (Republik Federal Jerman Barat). Beberapa konsultan terkenal lainnya juga terlibat dalam rapat Consultative Committee, seperti Dr. G. Hyvert, ahli konservasi dari Prancis, dan Ir. C.C, Th. de Beaufort, konsultan teknik dari Belanda. Prof. Dr. R. Soekmono, salah satu arkeolog pertama dari Indonesia, juga terlibat dalam perlindungan Borobudur sebagai sekretaris eksekutif dari Badan Pemugaran Candi Borobudur sekaligus Pimpinan Proyek Pemugaran Candi Borobudur. Selama berlangsungnya proyek tersebut, beliau memantapkan posisinya sebagai ahli mengenai Candi Borobudur di kancah internasional.

Proyek Pemugaran Candi Borobudur mengikutsertakan lebih dari 600 orang dari komunitas Borobudur. Mereka dilatih selama tiga tahun oleh para ahli yang terlibat aktif dalam proyek, yang dilengkapi dengan latihan praktis yang diawasi oleh pensiunan teknisi dari Dinas Purbakala. Alumni pertama dari “Akademi Borobudur” ternyata tidak hanya ‘bisa langsung digunakan’, tetapi juga dapat membantu dan bahkan mewakili guru mereka dalam kajian bersama dengan ahli asing. Mereka kemudian terlibat secara aktif dalam proyek Indonesian Technical Assistance for Safegurding Angkor di Kamboja pada tahun 1994-2000. Dalam proyek tersebut, mereka berhasil memugar gapura Royal Palace, Angkor Thom, sekaligus mentransfer ilmu dan keahlian mereka kepada para pekerja lokal dari Kamboja.

4.   Subyek dan Tema

Dokumen pemugaran Candi Borobudur menggambarkan proses pemugaran yang melibatkan ahli nasional dan internasional dari berbagai latar belakang untuk belajar, mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu konservasi cagar budaya berbahan batu di Candi Borobudur. Ilmu yang diterapkan telah menjadi fondasi bagi pelestarian situs cagar budaya di Indonesia, dan juga di Asia Tenggara. Dokumen pemugaran menggambarkan proyek ini sebagai salah satu proyek pelestarian terbesar yang pernah dilakukan, menghabiskan lebih dari USD 20 juta, dimana USD 13 juta berasal dari Pemerintah Indonesia dan sekitar US D 7,75 juta berasal dari kontribusi internasional, serta juga melibatkan lebih dari 600 pekerja lokal.

Para ahli dan pekerja yang terlibat dalam pemugaran diawasi oleh CC-Borobudur yang bertemu paling tidak setahun sekali. Komite tersebut diberikan tugas untuk mengevaluasi progres pekerjaan pemugaran dan memberikan program/rekomendasi untuk tahapan pekerjaan berikutnya. Mekanisme yang serupa kemudian diterapkan di proyek pelestarian lainnya, terutama di Angkor, Kamboja. Pada tahun 1993, International Coordinating Committee for the Safeguarding and Development of the Historic Sites of Angkor (ICC-Angkor) didirikan. Salah satu tugas utamanya adalah untuk mengkoordinasikan semua bantuan yang diberikan oleh negara dan organisasi yang berbeda-beda untuk perawatan dan pemugaran candi-candi di Situs Warisan Dunia Angkor.